Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

7 Apr 2010

Jiwa Yang Hilang *hiksu* T^T

Title : Jiwa yang Hilang

Genre : Sadness + Romance ^^

Rating : +++16 *intinya sapa ja blh kq*

Cast : >>> Meirin * aku *
>>> Karin
>>> Rha
>>> Mama
>>> Papa
>>> Many more +org2 gila+ haha. . .



Silakan menikmati. . . *welegh*
Read my 3rd penpik...(- ,-)
*maap telat lama bgt, UN sih*
Haha

Douzo~





Minggu pagi yang cerah, inilah hari yang kutunggu-tunggu. Saat ku duduk diam
merenung dikamar, indah rasanya.



Hari minggu ini akan ada Festival Kebudayaan Jepang di SMA Karakiri. Akhirnya bisa kumpul sama anak-anak otaku di Solo.




+dare datte shippai wa surunda....+



Terdengar HP-ku berdering.



KARIN



Nama itu muncul di layar, segera ku angkat.


“Halo, iya cik ada apa?” tanyaku sambil kucek-kucek mata.
“Nanti jadi kan? Kamu ke rumahku dulu ya. Biar nggak pisah gitu.hehe.” kekehnya.
“Iya cinta, nanti aku kesana jam 08.00, jadi kamu harus sudah siap.”
“Okey cuy, aku tunggu ya. Arigatou.”


Piip…piip…


Ya, itu dia si Karin.



Sahabat yang selalu menemaniku setiap aku butuhkan.
Salah satu otaku di Solo dan sekaligus teman sekolahku.







Oiya, perkenalkan namaku Meirin, orang gila yang tergila-gila sama Nippon.
+mulai dech, maklum yak+


Pekerjaan rumah yang biasa aku kerjakan akhirnya sudah selesai juga, menyapu rumah, mencuci
peralatan makan, membereskan kamarku yang selama seminggu aku biarkan
begitu saja seperti kapal pecah, fuiih cuapeknya.


Ternyata sudah jam segini, aku harus cepat-cepat mandi nanti keburu di
marahin Karin. Hanya kata itu yang bisa di terima oleh otakku.




“Ma, Pa... aku berangkat dulu ya keburu telat nih.” Kataku.
“Iya, hati-hati ya.
Jangan luoa makan siang.” Pesan mama.


Buru-buru aku mencium kening mereka dan berlari menuju motor kesayanganku.





Beberapa menit kemudian akhirnya sampai juga di rumah Karin.
Ternyata dia sudah menungguku di depan
rumahnya.
“Maaf deh rada telat. Hehe.” Kataku.
“He-eh. Gapapa kok. Lagian juga masih jam segini. “ jawabnya.
“Pah, aku berangkat dulu ya.” Ujarnya.
“Om, kami pergi dulu.” Kataku
“Iya, tolong jaga anak om yang bandel ini.”
“Siap bos!” jawabku sambil memberi hormat.


***


.ciit...






Akhirnya sampai juga di tempat tujuan kita. SMA karakiri.




Cosplayer!!!!






Oh My God!!!



Setelah terkurung dalam dunia yang sangat membosankan akhirnya aku
bisa melihat suasana seperti ini
Soalnya beberapa bulan yang lalu aku
terkunkung dan berkutat dengan tumpukan buku yang super duper tebal.





Rasanya seperti hidup kembali. +lebay+ *___*

Sejauh mata memandang yang aku dapati hanyalah segerombolan motor.



Ahh tidak~






Tiketnya. . . .





***

Tiba-tiba ada benda jatuh menimpa kepalaku.


“Nih... buat kalian.” Ujar seseorang.





Suara ini. . . .


Ya, tidak salah lagi. . .





“Ahh Kamu, ternyata benar duganku.” Kataku
sambil menepuk punggungnya.

“Aduh, sakit tau. Jadi nggak terima kasih ya
udah aku belikan tiketnya buat kalian berdua.” Sindirnya.

“Ahh, arigatou
masnya.” Jawab Karin.
“Nah, gitu donk. Tapi ada yang masih belum sadar juga.”
Ledeknya.

“Iye-iye. Tingkyuu yua masnya.” Kataku.
“Tumben kalian baru datang,
biasanya kalian paling rajin kalo datang ke acara beginian.” Sindirnya lagi.
“Yee, tau ndiri kami sibuk. Jadi wajar lah,. Ya nggak Rin.” Elakku.


Dia. . .


Ya, dialah yang sekarang telah merenggut hatiku.

Orang yang selama bertahun – tahun sudah aku anggap seperti kakak, tapi sekarang sudah beda.



Perasaan ini beda. Bukan lagi perasaan sebagai adik – kakak.





Apa aku. . .





***



Tak terasa kami pun larut dalam suasana yang indah ini. Langkah demi langkah kami
menuju pintu masuk.


Suasana beda pun menyelimuti mata ini, Festival.





Lama sekali aku mengharapkan hal ini terjadi lagi dalam hidupku ini. Aku hanya ingin hari ini tak berakhir.



“Mey.” Sapa seseorang.
“Hei, ohisashiburi desu ne. ogenki desu ka?” jawabku sambil memeluknya.





Ya, dia salah satu teman kami, Rha.
Dan di belakangnya ada banyak sekali teman-teman yang lain.
“Woi, kami tak kau peluk juga nih.” Ledek yang lain.


“Haha, bukan makhromnya kali.” Balasku.

Gelak tawa pun meledak seketika.



Aku sangat bahagia, ternyata masih banyak teman-teman yang menghargai aku hidup di dunia yang fana ini.






Semua pernak-pernik festifal tampak sangat meriah sekali, itu yang membuyarkan lamunan jelekku tadi.


Dan semakin ke dalam semakin ramai dan semakin menarik.
Banyak sekali stan-stan, mereka menjual berbagai macam makanan khas
Jepang, komik, kerajinan, dan masih banyak lagi, rasanya ingin membawanya pulang ke rumah.



+dare datte shippai wa surunda....+


Segera aku angkat HP yang ada di genggamanku itu.






“Halo. . .iya, ada apa?” tanyaku.


“Mey, ini aku. Kamu udah masuk ke dalam belum?” Tanya seseorang di seberang sana.



“Ahh, iya. Maksudnya ke matsuri? Udah dari tadi lah. Kamu kemana aja? Kamu jadi kan kesini?” tanyaku panjang lebar.


“Iye neng. Aku udah sampai nih. Kamu dimananya?”
“Aku ada di stage nih kamu buruan kesini lah.” Pintaku.
“Sip. Aku kesana sekarang.” Jawabnya seraya mematikan HP.



Wah akhirnya bisa ketemu sama teman baru lagi yang sealiran dan itu sangat menyenangkan punya banyak teman sesama otaku.




Tapi ini lah akhir dari mimpi indahku, babak baru segera aku main kan.





“Mey, ayo kita ke rumah hantu. Seru tuh pastinya.” Ajak Karin. Mau tak mau aku ikut juga, padahal aku takut banget sama yang namanya hantu.


Tak lama kemudian teman baruku datang.



Awalnya aku merasa senang dan bahagia, tapi semua itu buyar.
Kalian pasti ingat, teman yang aku panggil mas tadi ternyata terlihat marah sekali.


Mata yang tajam itu menusuk sampai ulu hatiku.




Perasaan apa ini.




Sakit. . . .





***





Akhirnya, langit pun sudah tak kuat menahan perihku ini.






Gerimis.




Semua orang berhamburan ke tepi, kecuali aku.




Aku merasakan ada yang menarik tanganku kebelakang, tapi siapa.




Ternyata dia. . .



Oh Tuhan,



Apa aku salah menyimpan perasaan ini sendiri.



“Dhek, kamu apa – apaan sih. Tau ujan juga.” Bentaknya.



“Ma-maaf.” Jawabku sambil menunduk. Tiba – tiba. . .




Jemarinya melingkar di punggungku. Apa ini. . .



Tapi, kejadian itu hanya sekejap saja.
Ya, karena teman baruku datang dan menggandeng tanganku erat.





***




Cosplay cabaret pun dimulai. . .


Saat itu aku naik diatas meja dan sejenak melupakan kejadian tadi. Aku mulai tersenyum kembali karena ceritanya lucu banget.




Aku semakin kaget lagi, ternyata dia ada di belakangku.
Dia duduk manis di belakangku sambil memandang kearahku dengan senyum manisnya.
Dia sangat manis sekali saat senyum dan sanagt menakutkan kalau tatapan matanya kita pandang.





Deg...deg...deg...



Mungkin itu suara jantungku saat ini.




“Mey adekku, kamu kenapa? Dari tadi bawaanya murung terus, katanya mau kesini.” Kata dia.
“Ahh, iya mas. Kamu juga tau aku baru aja putus sama cinta pertamaku. Masih sakit mas, masih perih.” Jawabku.
“Iya, aku paham. Tapi bukan kayak gini dong, namanya menyiksa diri. Aku nggak mau adekku yang cantik ini nangis lagi gara – gara cowok.”






Dalam hati kecilku aku hanya bisa berkata, kamu yang bisa membuatku semangat. Mungkin hanya kamu seorang.







***


Ternyata takdir berkata lain.




Aku mungkin tak di takdirkan bersamanya. Entah sampai kapan.






Aku melihat di situs jejaring sosialnya ada seorang cewek yang memanggilnya dengan sebutan “Yank”. . .




Sesak.




Aku mulai menjauh darinya.




Aku tak ingin menggangunya lagi. Aku takut, takut akan merusak hubungannya dengan wanita itu. Aku tak mau di sebut – sebut sebagai orang ketiga, ditambah lagi cewek itu juga kenalanku.






***


Lembaran – lembaran baru mulai aku tapaki lagi. Aku sudah bisa sedikit demi sedikit menjauhi dia.



Tak disangka – sangka, aku dan teman baruku itu jadian.



Ya, jadian. Aku tak tau kenapa aku bisa memilihnya. Atau jangan – jangan dialah orang yang sampai detik ini setia menemaniku. Setia mendengarkan curahan hati yang beku ini.




Tapi kenapa bayang – bayang cinta pertama dan dia selalu terngiang di benakku.


Sudahlah, aku harus jalani ini dengan benar. Aku tak mau pilihan ini salah lagi.




+dare datte shipai wa surunda...+




“Halo.” “Halo sayank, ini aku. Kamu masih belum tidur kan?”


Hahh. . .
Pertanyaan itu. Aku sesungguhnya malas menjawabnya, tapi statusku pacarnya.

Oh Tuhan. . .




***


>>> 3 bulan kemudian




Aku putus lagi.




Memang benar kata orang – orang, aku tak beruntung dalam masalah percintaan.



Haha.



***


>>> 1 tahun kemudian




Aku sudah terbiasa dengan hari – hari tanpa kekasih.



Aku merasa bebas.



“Oiii, Mey.” Sapa Karin. “Oiii. . .” “Ehh, main yuk lama nih nggak jalan sama temen – temen yang lain.” Ajknya. “Oke, ayo sekarang.” Kami berenam jalan-jalan di sebuah mall di Kota Solo tercinta ini.



Kami bersenda gurau, ketawa-ketiwi, dan yang paling penting kita bisa narsis bareng lagi. Hehe. Yach, beginilah kehidupanku sebenarnya. Jauh dari rasa murung dan sedih.





“Sob, kalian mau lanjut kuliah kemana nih?” tanyaku.
“Kalo aku sih rencananya mau ke Jogja.” Jawab Karin.
“Aku ke Jakarta.” “Iya, kami berduajuga mau ke Jakarta nih.” Jawab Usagi dan Sonoko serempak seraya membenarkan jawaban si Kaori.
“Aku mau ke Bandung nih. Kalo kamu Mey?” kata Aida.
“A-aku. . . cukup di Solo aja kok.” Jawabku singkat.
“Kenapa say, kamu kan niat mau ke Jogja.
“Iya, tapi ortu nggak ngijinin. Mereka takut pisah sama aku.”
Aku merebahkan kepala di bahu Karin, dan mulai meneteskan air mata lagi!!!!






***

Senja pun mulai datang, berhubung malam minggu kami pun melanjutkan perjalanan kami. Belanja. . . haha.




Sepanjang kami melemparkan mata, yang kami lihat hanya sekelompok anak muda yang asyik bermesraan dengan pasangan mereka.
Sempat terbersit dalam benakku berkhayal ingin rasanya memiliki dia.
Seorang pacar yang merangkap menjadi seorang kakak.
Sudahlah, apa gunanya aku memikirkannya lagi. Toh dia sekarang sudah bahagia.




BRUUK



“Auuw. . .” teriakku. “Maaf, aku nggak sengaja.” Jawab seorang pria.
“Adek. . .” tambahnya. “Haaa. . .oh kamu mas.” jawabku. “Mey, kamu nggak pa-pa?” Tanya mereka serentak.
“Sini aku bantu dhek. Makanya kalo jalan tuh liat depang donk.”
“I-iya deh.”






Deg. . .deg. . .deg. . .





Apa lagi ini? Aku tak mau mencintai dia, dia cuma seorang kakak buatku, tak lebih. Tuhan Bantu aku untuk membencinya. Tolong aku. . .





***




Pagi ini begitu cerah, tak biasanya aku seceria ini.
Apa akan kabar baik datang?






+dare date shippai wa surunda. . .+


NO NUMBER. . .

“Halo. . .”
“Iya, halo siapa ini?” tanyaku. “Ini aku pemuja rahasiamu.” Katanya.
Weits, sapa lagi nih. Aku memang banyak yang naksir sih jadi nggak heran juga. +kepedean+ *____*
“Bisa nggak kita ketemu di taman? Ini penting banget neng.” Pintanya.
“Tapi kamu siapa? Aku nggak akan datang kalo kamu nggak mau ngaku.” Jawabku keras.
“Aku temanmu juga kok, udah datang ya. Aku nggak bakal macem-macem sama kamu cinta.”







***


Setengah jam kemudian aku sampai di tempat yang ia janjikan.
Sepi.
Aku malah jadi takut.
Hiiiii~

Dari belakang terasa angin semilir meniup leherku.
Aku hanya bergidik ngeri.
Tiba-tiba. . .

Kyaaaaaaaaa~






Tangan itu pun menutup bibirku, hingga aku tak bisa berteriak.
Perlahan aku mulai melihat wajahnya, ternyata. . .



“Kamu???” kataku kaget.
“Hehe, iya dhek ini aku. Maaf sudah membuatmu ketakutan seperti ini.” Jelasnya.



“Berarti tadi yang. . .”


Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, dia sudah menciumku.





“Iya dhek, aku sadar aku sayang kamu. Aku tak sanggup kehilangan kamu lagi. Sudah cukup sampai disini pengembaraan cintaku. Aku benar-benar serius denganmu. Apa pun jawaban darimu adalah keputusanmu. Tapi, aku berharap kita bias menjalin hubungan dengan lebih baik lagi. Aku mohon, mau kah kamu menjadi pacar dan sekaligus sahabat?” pintanya.


Aku bingung, secara nggak langsung aku bakal kehilangan kakak, tapi di lain sisi aku juga sangat senang mendengar pengakuannya.



Ya Tuhan, semoga jawabanku kali ini benar.





“Kak, terima kasih banget selama ini kamu baik banget sama aku. Aku tak tau harus bilang gimana ke kamu. Kamu sesosok kaka yang baik dan penyayang adeknya. Tapi untuk menjadi seorang pacar. . .”


Dia menutup bibirku, dan langsung memelukku. Erat. . .


“Sudah tak apa dhek, kalo itu adalah pilihanmu. Makasih, aku akan tetap menjadi kakak bagimu.”



Dia melapaskan pelukannnya perlahan.


Sakit.



Aku hanya bisa melihat punggungnya.




“. . .Tapi untuk menjadi seorang pacar, aku tak menolaknya kak.” Lanjutku seraya berlari memeluknya.



“Yang bener nih?” Tanya dia seolah tak percaya.


“Iya, aku sebenarnya juga sangat menyayangimu, lebih dari seorang kakak.
Tapi aku takut akan terulang seperti dulu lagi.”


Dia membalikkan badan dan mengusap air mataku yang terus bercucuran, mengalir melewati sela-sela pipi tembemku.



“Makasih cinta, aku tak akan mengecewakanmu seperti masal lalu kamu. Percayakan semua padaku. Kamu boleh membuang nomer hapeku, membenciku seumur hidupmu dhek.” Kata dia sambil meyakinkanku.



***


“Ohayou putri cantikku.”


Aku mendengar seseorang memanggil namaku dan mengelusku lembut.
Aku mulai membuka mataku perlahan, dan ternyata dia datang.

“Ayo bangun, udah pagi gini masih ngorok aja. Buruan gih mandi ntar telat sekolahnya.”
“Iya cinta, ini juga udah bangun. Masih kumpulin nyawa nich. Hehe.”


Dia, ternyata telah kembali seperti kebiasaannya dulu.
Setiap pagi selalu menyempatkan dating untuk membangunkanku.
Tak heran juga sih, karena kami teman masa kecil.
Orang tua kami sudah maklum, karena kami seperti saudara dan yang paling penting dia tidak macam-macam denganku.
Haha.


“Hush, pagi-pagi udah bengong ntar kesambet. Mikirin ciuman kemarin ya?? Hihi. Ayo ngaku. . .” ledeknya.
“Apaan sih, jahat banget.”
“Ya sudah, buruan mandi bau tuh. Aku tunggu di bawah ya.” Katanya sambil mengecup keningku.




***


Aku masih tak menyangka akan jadi seperti ini akhir kisah cintaku.
Aku senang akhirnya akan menjadi seperti ini, tapi kadang aku pun merasa sedih, karena sosok kakak yang selama ini aku impikan malah menjadi pacarku.



Tapi satu hal yang aku suka darinya, yaitu rasa sayangnya masih tetap seperti dulu, kakak yang aku kenal.


Kadang saat kami melintas didepan teman-temannya banyak tatapan iri and benci menatapku.



Sosok pangeran impian yang selama ini di impikan oleh banyak orang, kini takluk di tangan anak SMA.
Tapi senang juga sih, di saat aku membutuhkan seorang kakak, dia selalu hadir di sampingku dengan kelembutan hatinya.







***

FIN

14 Nov 2009

AkUu puLAaAanG!!!!

Senja hari itu sangat indah. Hangat. Aku merenung diatas atap rumah. Mengamati setiap sudut kota. Sudah lama tak melakukan hal seperti ini.
.
.
.
“AHH.. AKHIRNYA BISA SAMPAI JUGA....” teriakku sambil mengepalkan tangan ke atas. “Oi.... Berisik tau!!!” teriak seseorang. “Ma-maaf..” aku menoleh ke arahnya, dan ternyata dia….
“Heh anak bodoh!! Kapan kamu datang?” katanya. “Ohh,, ternyata sampai sekarang pun kamu masih memanggilku anak bodoh ya…” jawabku. Dia adalah teman dekatku, bisa di bilang sahabat setiaku. Tapi lama-lama ada rasa aneh yang muncul di hati ini. Mungkin aneh tapi memang ini yang aku rasakan, kami sudah bersahabat dari TK. Hanya dia yang bisa mengerti aku. Hanya dia seorang.
.
.
.
.
Tiba-tiba saja dia langsung duduk di sampingku dan memelukku erat sekali. ”Selamat datang kembali putri kecilku. Aku selalu dan selalu menantimu hingga kau pulang lagi.” Bisiknya. “Arigatou~ hmm... hontou ni gomen nasai, aku pergi lama. Kamu baik-baik saja kan?” kataku. “He-eh...biarkan aku memelukmu untuk melepas rinduku ini.” Pintanya. Sudah lama sekali setelah upacara ke lulusan waktu itu, tak disangka kami selama itu terpisah jauh. Sudah hampir 3 tahun aku mengenyam pendidikan di Negeri Sakura tersebut, dan selama itu lah aku dan dia terakhir duduk disini. Tapi, apakah dia masih ingat akan janji kami dulu. Hanya itu yang sedang aku pikirkan sekarang.

***

“Oiya, kapan kamu mau menyusulku kesana?” tanyaku. “Ehh, entahlah. Aku juga bingung mau lanjut ke Jepang atau ke Jerman.” Jawabnya pasrah. “Tapi kamu masih ingat akan janji kita kan?” kataku sambil meneteskan air mata. Yang dia lakukan adalah memelukku. Itulah senjata andalannya saat melihatku menangis. “Sepertinya aku tidak bisa kesana sekarang, karena aku di minta kakakku untuk meneruskan perusahaan papa. Entah sampai kapan, mungkin setelah kakakku kembali kesini.” Jawabnya sambil terus memelukku.
.
.
.
Apa memang ini yang Tuhan kehendaki. Kami terpisah sangat jauh. Kalau di pikir-pikir, kami seperti anak-anak F4-nya Hana Yori Dango +lebay mode on+ . Hmmm~ Mungkin Tuhan mau membuka mata hati kami, kalau hidup ini pasti akan ada perpisahan. Itu yang aku pikirkan sekarang. Dia selalu menyemangatiku, dan berjanji kelak saat pendidikannya disini telah selesai dia akan menyusulku dan mengambil S2 disana. Terkadang aku sangat senang mengingat akan kata-kata manis itu, tapi ada kalanya rasa takut itu bergelayutan di pundakku. Aku tak ingin kehilangan seseorang seperti dia, terlebih lagi dia sahabat terbaikku. Dia beda… Ya… Dia memang beda dari cowok-cowok lainnya. Cara berfikirnya sangat simple tapi analisisnya sangat mengagumkan. Penampilannya yang sedikit urakan memberi kesan dia sangat santai menghadapi sgala masalah. Andai dia bisa mewujudkan mipinya sebagai detektif ternama di Jepang. Haha. Mungkin kedengaran sedikit lebay, tapi itu semua sanagt mungkin terjadi, pasalnya dia sangat berbakat dan juga sering membaca novel-novel serta komik-komik detektif.
.
.
.
.
.
Yang saat ini aku inginkan hanyalah berada di sampingnya, hanya itu. Tak terasa mentari pun telah di telan bumi dan kami pun saling terdiam membisu, tenggelam dalam pikiran kami sendiri. Setelah sekian lama terpisah, mungkin ada sedikit rasa canggung yang singgah di hati ini. Ingin rasanya aku mengulang hari-hari seperti dulu. “Aku...” tiba-tiba kami mengatakannya bersamaan. “Ah, kamu duluan..” kataku. “Kamu duluan aja.” Jawabnya. “Aku...aku ingin tinggal disini lagi bersama kamu dan anak-anak yang lain.” Kataku. Dengan wajah tertunduk aku beranikan untuk mengungkapkan rasa yang telah lama berkecambuk di relung hati ini, aku ingin kembali. Sedikit aku melirik ke arahnya, dan yang aku dapatkan adalah tatapannya yang tajam dan sangat ganas. Seumur hidup baru kali ini dia perlihatkan wajah sangarnya kepadaku. Aku sangat ketakutan melihatnya, apa memang salah aku mengatakan kata itu. “Hah?? Terus kuliah kamu dan perusahaan yang kamu jalankan bagaimana nasibnya?” katanya dengan nada tinggi. “Kamu tidak boleh seperti ini. Apa hanya karena aku? Kalau memang benar, lebih baik aku pergi. Aku nyesel punya teman seperti kamu, nggak punya harapan. Kasihan sekali. Anggap saja kita tidak pernah kenal selama ini. Oke!!!” bentaknya. Mungkin itulah pertemuan pertama dan sekaligus terakhirku setelah sekian lama berpisah. Bodoh sekali . Apa yang kamu lakukan Mey. Dasar baka!!! Orang yang selama ini kamu pikirkan dan ingin menemuinya setelah sekian lama berpisah kenapa kamu sia-siakan.

***


Seminggu kemudian...

Siang ini adalah hari terakhirku sebelum berangkat kembali ke Jepang. Berat hati ini, tapi ini semua demi membahagiakan orang tua dan juga teman masa kecilku yang sangat aku sayang. Langkah demi langkah pun aku pijakan menuju Gramedia, took buku kesayanganku selama tinggal di Solo. Tapi siang itu aku merasakan ada yang hilang di hati ini. Perasaan yang semula hanya biasa saja tapi itulah hal terburuk yang akan terjadi di dalam hidupku. Di ujung jalan aku melihat banyak orang berkerumun, aku mulai melangkah menuju tempat tersebut. Sesampainya disana aku tersandung dan terjatuh, saking banyaknya aku tak dapat mendekat ke tempat itu. Hari pun semakin terik, aku pun memutuskan untuk beranjak dari tempat tersebut dan melanjutkan pergi ke Gramedia.
.
.
.
Di depan rumah aku mendapati kedua orang tuaku yang terlihat sangat cemas dan mama pun memelukku dengan sangat erat. Aku melihat semua barang-barang yang akan ku bawa kembali ternyata sudah tertata rapi di depan pintu. Hah,, sudah waktunya. Itu yang aku gumamkan dalam hati. Aku melirik samping rumah dan berfikir kenapa rumahnya banyak sekali orang mondar-mandir di rumahnya. DEG. Apa dia baik-baik saja? “Nak, kamu yang tabah ya.” Elus papa. “He, memang ada apa?” tanyaku. “Lihat di depan rumahnya.” Jawab papa sambil menunjuk kearah rumahnya. Segera aku berlari kesana, tanpa memedulikan apa yang di omongkan kedua orang tuaku. Sesampainya di depan rumahnya yang kebetulan berada di samping rumah aku hanya bisa berdiri terdiam. Apa ini? Apakah ini memang benar terjadi? Sesaat kemudian orang-orang memandangku dengan tatapan kasihan, dan sahabat-sahabatku yang lain pun turut memelukku. Mereka menangis dan memberikan semangat kepadaku. Aku hanya diam. Diam terpaku melihat ke dalam pintu masuk. Seolah tak percaya dengan kenyataan yang ada, Setelah aku melihat ada bendera merah yang berkibar-kibar di pintu gerbangnya aku mulai menangis. Hanya menangis yang bisa aku lakukan untuk waktu itu. Semakin lama aku merasakan tubuhku tak terkendali dan meronta-ronta. Aku tak dapat mendengar apa yang orang-orang katakan. Sunyi. Apa memang Tuhan berkehendak seperti ini? “Tuhan, kenapa jadi seperti ini? Orang yang selama ini aku saying kenapa Kau ambil secepat ini? Kenapa Tuhan? Aku memang bodoh tidak dari dulu menyatakan perasaan yang sudah terpendam sejak lama ini. Memang aku bodoh, hanya bisa melihat diri sendiri senag dan bahagia, tapi tak pernah memikirkan orng lain. Apa ini balasan-Mu ya Tuhan?” ujarku sambil menangis dan meronta. Teman-teman hanya bisa mendekapku dalam pelukan hangat mereka. “Dasar bodoh! Sekali anak bodoh tetaplah anak bodoh...” ujar seseorang. Suara itu... jangan-jangan. Segera aku menoleh ke belakang. Sekilas aku masih tak percaya, tapi dia segera mendekapku. Diam. Aku hanya diam terpaku. “Terima kasih kamu bisa saying sama aku, sudah lama aku ingin mendengar itu langsung dari mulutmu tapi kapan. Ternyata sekaranglah kamu bisa mengungkapkan isi hatimu dengan tulus ikhlas.” Katanya. Setelah itu dia mengecup keningku. Apa ini sungguhan atau aku hanya mimpi? Bukannya dia sudah meninggal? Kenapa masih bisa di hadapanku sekarang? Aneh. Sayang, yang meninggal itu bukan aku. Lagian juga ini bukan rumahku. Aku hanya menguji kamu dengan trik psikologis yang aku ciptakan, dan dengan bantuan paman dan bibi serta teman-teman aksiku pun berjalan dengan lancar. Maafkan aku sebelumnya, bukannya aku bermaksud buruk dengan mempermainkan kematian, tapi hanya ini yang bis aku lakukan sekarang. Karena kamu bisa jujur dengan perasaanmu sendiri dan juga sudah mau kembali ke Jepang dan melanjutkan cita-citamu disana. Hanya itu yang aku inginkan.” Jawabnya. Terima kasih Tuhan, aku tidak kehilangan teman dan juga orang yang sangat aku sayangi.


+End+

30 Okt 2009

Nightmare in My Nice Dreams…..


Genre : Drama romantice


Rating : PG 15+


Cast :

+Meirin

+Karin

+Kak Pikyon

+Aiko

+Mama

+Kaori

+Papa

+Kenichi

+ n’ more…



Sang bulan kini telah kembali ke peraduannya, dan di gantikan oleh sang fajar. Aku masih duduk termenung diam. Pagi terasa sunyi senyap. Entah apakah karena hatiku yang kosong atau memang ikut membisu. Aku mecoba untuk bangun dari tempatku. Tidak bisa. Terasa berat. Kenapa aku ini?

.

.

Apa ada yang salah denagn makananku semalam? Ahh tidak. Tidak mungkin, karena yang aku makan adalah nasi goring, makanan favoritku. Tiba-tiba sekeliling menjadi pudar. Ohh tidak!! Jeritku dalam hati. Lelehan kepedihan telah keluar dari bola mataku. Ada apa ini? Aku tersadar kalo semalam aku duduk menangis dalam diamku. Sampai akhirnya jatuh lagi kesekian kalinya di pagi yang suram ini. Mungkin alam juga berduka melihatku yang seperti ini. Ada seseorang menjerit dalam diamku sampai aku terhentak kaget dan membuyarkan semua lamunanku. Yang datang MAMA!!!! Aku mencoba menyembnyikan mataku yang terasa semakin sipit akibat tangisanku semalam. Tidak bisa! Ya Tuhan bagaimana ini. Mama pasti cemas akan keadaanku yang terpuruk ini. Ternyata benar.

Sayang,kamu kenapa nak? Siapa yang membuat kamu jadi seperti ini?” Tanya mama cemas. Ku coba menjawab dengan tenang. “Ahh tidak mah, Mey baik-baik saja kok. Tadi Cuma kemasukkan debu.” Jawabku seadanya. Mungkin itu kebohongan pertamaku yang paling konyol. “Jangn bohong! Mama tau kamu habis nangis semalaman. Ayolah Mey saying cerita sama mama.” Pinta mama sambil mengelusku lembut. Aku mencoba memendam ini sendiri tapi tak bias. Sekarang yang aku bias hanyalah menangis dan menagis. Sambil sesenggukan aku ceritakan semua kepada mama tercinta. “Ohh, sabar anakku. Jalanmu masih panjang kalo memang dia sudah menemukan jodohnya biarlah. Kamu masih punya mama, papa, kak pikyon, dan ketiga sahabatmu.” Nasihat mama. “Sekarang kamu bersihkan muka dan sarapan, sudah ditunggu papa sama kak pikyon lho.”kata mama seraya mencubit pipi tembemku gemas.


***

Kisah ini berawal dari malam minggu kemarin, saat aku pergi ke toko buku sendiri. Gramedia yang begitu penuh dengan buku itupun seolah menjadi saksi. Kaito yang selama 2 tahun ini menjadi malaikatku ternyata sedang jalan dengan seorang peri lain. Dulu hanya aku peri yang dapat singgah di hatinya. Tapi…

.

.

Argh!!!!!

Kecewa. Marah. Kesal. Itu yang ada dalam benakku. Apa dayaku melihat pemandangan seperti ini. Aku terpaku melihat sepasang merpati terbang kesana kemari dengan riangnya. Sebetulnya aku yang ada disana tapi kenapa bukan. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di otakku. Apa ini karma bagiku? Soalnya dulu aku juga pernah selingkuh di depan pacarku yang dulu-dulu. Ohh Tuhan, ampunilah dosa-dosa hamba. Hanya kata-kata itu yang terbersit di benakku. Lemas. Itu yang aku rasakan sekarang.

.

Kaito sekarang mulai meninggalkan toko dan meluncur ke toko untuk membuat undangan. Haa? Apa yang dilakukan olehnya sekarang? Siapa yang ulang tahun? Pikirku kala itu. Selang beberapa saat mereka pegi meninggalkan toko itu, setelah menjabat tangan pemilik toko. Karena penasaran aku pun menghampiri sang pemilik toko dan menanyakan apa yang di pesan oleh Kaito tadi. Kalo ini benar-benar membuat jantungku berhenti berdetak. Pemilik toko itu memperlihatkan desain undangan pernikahan. Dan di undangan itu tertera sebuah nama yang tak asing lagi bagiku.

.

.

.

.

.

KUROBA KAITO.


***



Lamunanku terhenti karena ada suara yang memanggil namaku berkali-kali. Dan aku pun bergegas membasuh muka lalu menuju ke sumber suara itu.

.

.

Damai.

Itu yang aku rasakan sewaktu menuruni tangga. Seakan aku telah membuang semua beban hidupku jauh-jauh dari pundakku. Di meja makan aku melihat papa, mama, dan kak pikyon. Aku tersenyum. Entah kenapa rasanya aku telah meninggalkan mereka lama. Aneh memang. Tapi itu yang aku rasakan sekarang. Aku merasa bersalah. Dulu. Satu tahun yang lalu, sewaktu aku mulai merajut kasih dengan Kaito sesungguhnya mereka tidak setuju. Mereka bilang Kaito itu tidak cocok untukku. Mungkin benar untuk saat ini, tapi tidak untuk kala itu. Mereka bilang dia tidak bisa membiayai aku kalo nanti kami menikah. Karena yang mereka lihat Kaito adalah seorang penjaga toko persewaan komik dan majalah. Hahh. Aku hanya bisa mendesah damai hati. Andai dulu aku tidak mengenalnya lebih jauh lagi. Hanya rasa penyesalan yang bisa aku rasakan sekarang.

Hai sayang, sudah bangun?” sapa papa sambil membaca Koran pagi. “emm…”jawabku. “Mey, tolong ambilkan selai coklat kakak.” Kata kak pikyon. Jemariku mulai melangkah mengambil selai itu. Berat. Ada apa ini? Ahh. Aku mencobanya lagi. Dan akhirnya aku dapat meraihnya. “Ini kak.” Kataku seraya menyerahkan benda itu. Suasana pagi itu pun mulai cerah. Aku mulai mengembangkan senyumku. Hariku telah bangkit lagi. Memori pahit itu akhirnya pudar seiring bergantinya detik.

Oh iya, aku ingin bertemu sahabat-sahabatku. Rasanya ingin meluapkan rindu ini kepada mereka. Inginku menceritakan semua kisah sendu ini bersama mereka.


***



Selesai mandi aku segera menata rambut unguku. Dan tak lupa mengenakan blazer kotak-kotak kesayanganku. Aku bercermin dan memandang diriku dalam-dalam. Aku tersenyum. Inilah Meirin yang baru. Hehe. Setelah menelpon semua, aku pun pergi menuju tempat biasa kita kumpul. Selang 30 menit mereka datang, dan langsung memelukku. Hangat rasanya di peluk sahabat. Aku tersenyum. Aku melihat wajah mereka tampak cemas. Maklumlah, karena setelah kejadian hari itu mereka mengetahui keadaanku yang sangat terpuruk. Setelah aku selesai bercerita, mereka mengangguk bersamaan. “Wah, ternyata kamu tabah banget mey, salut.” Kata Kaori. “He-eh. Kalo aku pasti masih mikirin yang begituan.” Sambung Aiko. “Halagh!!! Apaan sih kalian. Apa yang sudah Mey lakuin itu betul. Dia beda sama kalian yang melankolis banget.” Cerocos Karin sambil merangkulku. Yang aku butuh kan sekarang adalah kalian teman.



***


Pagi itu kampus sudah terlihat ramai. Banyak yang lalu lalang. Damai. Hanya itu yang bisa aku katakan sekarang. Tiba-tiba aku mendengar seseorang berlari kencang dan…BRUUK. “Auuw…” erangku kesakitan. Aku melihat lututku dan merah, itu yang bias aku lihat. Darah. “Ma-maaf.” Kata seseorang di depanku. “Ah, iya tidak apa-apa kok.” Kataku sambil meniup lukaku. “Kamu terluka, harus segera aku bawa ke klinik.” Katanya seraya memapahku. “Aku hanya menurut mengikuti alunan langkahnya.


***


Lukaku sudah di bersihkan dan di perban. Aku mengalihkan pandangan kearah orang itu. Tampan sekali. Pujiku dalam hati. “Nah, sudah selesai.” Katanya mengagetkanku. “Hey…kok bengong.” Aku masih melamun, dan terdengar suara orang terkekeh. Wah, bodoh sekali aku ini. Malu rasanya. “Ah-eh-oh…maaf.” Kataku seadanya. “Kenalin aku Kenichi, anak tehnik. Kamu Meirin ya” katanya sambil menjabat tanganku. “Iya, salam kenal. Tunggu dulu, kok kamu tau namaku?” “Jelas donk, kamu adalah aktifis yang aktif di kampus dan seorang otaku yang berpengetahuan luas.” Jelasnya panjang lebar.


***


Entah kenapa hari itu sangat menyenangkan sekali. Aku tersenyum-senyum hingga menuju kelas. Semua orang pasti aneh melihatku. Biarlah…

Aku ingin semua ini berjalan sebagaimana mestinya. Aku berharap ini buka mimpi. Seperti hidup kembali. Itu yang aku rasakan sekarang. Apa karena aku menemukan sesosok orang yang sangat perhatian dan memang dialah yang aku cari selama ini. Entahlah….
Hanya Tuhan yang tahu jawabnya…

***

Semenjak hari pertemuan itu, entah kenapa kami mulai dekat. Apa ini pertanda memang kami berjodoh. Ahh…kamu kenapa Mey…Ya jelas tidak mungkin, secara kamu masih menyukai Kaito. Hhh….Sudahlah…
.
.
.
“Hei…kamu kok sering banget bengong? Memang ada masalah apa? Apa boleh aku mendengarnya?” pinta Kenichi. Ohh….My god….Bagaimana ini……Aku tidak mau dia mengetahui masa lalu percintaanku yang sangat suram…Aku tidak mau orang sangat aku sayang untuk kedua kalinya pergi dari kehidupanku. Ya Tuhan…Aku mohon jangan Kau pisahkan aku dengannya. “Ahh,, tidak kok. Aku baik-baik saja. Mungkin masuk angin, hehe.” Jawabku sekenanya. “Ohh, kalau begitu kamu pake ini ya.” Ya Tuhan, kenapa kejadian ini sama persis dengan kejadian waktu itu. Kenapa??? Dia mengenakan blazer hitam ke punggungku. Hangat. Sama seperti waktu itu.
.
.
.
“Mey…aku mau bicara” Perasaan apa ini. Jangan-jangan. “I-iya” Bismillah ya Robb…. “Apa kamu mau menikah denganku?” katanya sambil menunjukkan cincin. “Haa…a-aku? Ke-kenapaa…” Ya, hanya kata itu yang bisa aku katakana. “Karena kamu adalah belahan jiwaku yang hilang selama ini.” Kata-kata itu…..Jangan-jangan…..Tidak…Tidak mungkin dia…
“Kamu…” kataku sambil melotot “Iya… Aku Kaito…” katanya sambil melepas topeng. “Tapi kamu kan….” Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku dia sudah memelukku erat. Aku yang berada di pelukannya hanya bias menangis, dan menagis. “Sayang, maafkan aku selama ini. Bukan maksudku menyakitimu. Tapi…” kata-katanya terpotong. “Hei…sudah-sudah jangan berpelukan terus. Aku jadi iri.” Sahut Kaori. “Sob, penyamaranmu hebat banget. Sampai-sampai Meirn yang suka dengan dektetif pun ketipu habis-habisan, haha” sindir Karin. “hehe, ini semua tidak akan berhasil tanpa bantuan kalian teman-teman. Terima kasih, karena aku bisa memberi kejutan kepada Mey di hari jadi kita yang ke 3 ini.” Katanya smbil memelukku erat. “Tapi…kenapa kamu melakukan semua ini kepadaku?” “Karena ini peranku sebagai detektif yang sekarang sedang menangani kasus yang lumayan rumit di kampus ini. Dan supaya tidak ketahuan, aku menyamar menjadi Kenichi. hehe” jelasnya. “Ohh,, tapi…kalau dengan surat undangan yang kamu pesan dengan seorang wanita itu?” “Ahh, itu hanyalah trikku untuk mengecoh mantan pacar wanita itu yang mengancamnya dan kebetulan sekali dia sedang berada disana.Tapi, secara tidak sengaja ternyata kamu juga berasa disana karena terkejut aku membiarkan kamu untuk mengikutiku dan akhirnya rencanaku berhasil sampai kamu pun terkecoh. Maafkan aku sayang, bukannya aku bermaksud jahat. Tapi ini memang konsekuensi yang harus aku lakukan sebagai seorang detektif.” “I-iya. Aku tahu, tidak apa-apa. Tapi lain kali kamu harus bicara padaku dulu. Kamu harus janji tidak ada rahasia lagi diantara kita.” “Siap!!!” katanya. Unnglah ini bukan masalah yang besar. Aku tidak mau kehikangan dia lagi. Sudah cukup dia pergi dariku 2 minggu ini. Terina kasih Ya Tuhan….Terima kasih karena Engkau telah mengembalikan dia di pelukanku lagi.
.
.
.
Selang 2 minggu dari hari itu, akhirnya kami menikah. Mungkin terkesan buru-buru. Tapi tidak juga soalnya kami memang sudah mAtang memikirkannya. Akhrinya mimpi buruk itu pun telah hilang dari kehidupanku. Awal cerita yang indah pun kami mulai bersama. Terima kasih teman-teman, Mama, Papa, Kak Pikyon….. ITSUMO AISHITERU MINNA-SAN.





-End-